WELCOME--- SUGENG RAWUH--- SELAMAT DATANG--- AHLAN WASAHLAN---"BERSATU KITA MAMPU"... WELCOME--- SUGENG RAWUH--- SELAMAT DATANG---AHLAN WASAHLAN--- "BERSAMA KITA BISA"...

Friday, April 17, 2009

MODEL PENGKAJIAN KOMUNITAS DENGAN PENDEKATAN BETTY NEUMAN


Model system Neuman (1970) memberikan gambaran baru tentang cara pandang terhadap manusia sebagai mahluk Wholistik (memandang manusia secara keseluruhan) meliputi aspek (variable) fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual yang berhubungan secara dinamis seiring dengan adanya respon-respon system terhadap stressor baik dari lingkungan internal maupun eksternal.

Komponen utama dari model ini adalah adanya stress dan reaksi terhadap stress. Klien dipandang sebagai suatu system terbuka yang memiliki siklus input, proses, output dan feedback sebagai suatu pola organisasi yang dinamis. Dengan menggunakan perspektif system ini, maka kliennya bisa meliputi individu, kelompok, keluarga, komunitas atau agregat lainnya dan dapat diterapkan oleh berbagai disiplin keilmuan.

Tujuan ideal dari model ini adalah untuk mencapai stabilitas system secara optimal. Apabila stabilitas tercapai maka akan terjadi revitalisasi dan sebagai system terbuka maka klien selalu berupaya untuk memperoleh, meningkatkan, dan mempertahankan keseimbangan diantara berbagai faktor, baik didalam maupun diluar system yang berupaya untuk mengusahakannya. Neuman (1970) menyebut gangguan-gangguan tersebut sebagai stressor yang memiliki dampak negatif atau positif. Reaksi terhadap stressor bisa potensial atau aktual melalui respon dan gejala yang dapat diidentifikasi.

Model Betty Neuman

Konsep-konsep utama yang diidentifikasi dalam model Betty Neuman adalah sebagai berikut :


1. Basic Struture dan Energy Resources

Struktur dasar berisi seluruh variable untuk mempertahankan hidup dasar yang biasa terdapat pada manusia sesuai karakteristik individu yang unik. Variabel-variabel tersebut yaitu variabel system, karakteristik masyarakat, dan kekuatan/kelemahan bagian-bagian sistem.

Contohnya yaitu kemampuan dalam mempertahankan adanya stressor di masyarakat (misal : adanya penyakit menular), masyarakat berupaya agar penyakit tersebut tidak menular ke anggotanya secara luas. Disamping itu, ada juga karakteristik dasar yang berhubungan dengan variabel tersebut, yaitu : kekuatan, kemampuan kognitif dan system nilai yang ada di masyarakat. Perubahan pada satu arah akan menimbulkan gerakan kompensasi ke arah yang lain. Jika sistem terganggu dari keadaan normal atau stabil, maka timbul kebutuhan energi yang cepat untuk mengatasi disorganisasi akibat gangguan tersebut.

2. Lines of Resistance

Merupakan serangkaian lingkaran putus-putus yang mengelilingi struktur dasar. Artinya garis resisten ini melindungi struktur dasar dan akan teraktivasi jika ada invasi dari stressor lingkungan melalui garis normal pertahanan (normal line of defense).

Misalnya adalah mekanisme sistem nilai atau keyakinan masyarakat, mekanisme koping masyarakat.

Jika lines of resistance efektif dalam merespon stressor tersebut, maka system depan berkonstitusi, jika tidak efektif maka energi berkurang dan bisa timbul kematian.

3. Normal Lines of Defense

· Merupakan lingkaran utuh yang mencerminkan suatu keadaan stabil untuk masyarakat, system atau kondisi yang menyertai pengaturan karena adanya stressor yang disebut keadaan wellness normal dan digunakan sebagai dasar untuk menentukan adanya deviasi dari keadaan wellness untuk system klien.

· Berbagai stressor dapat menginvasi normal line defense jika flexible lines of defense tidak dapat melindungi secara adekuat. Jika itu terjadi maka sistem klien akan bereaksi yang akan tampak pada adanya gejala ketidakstabilan atau sakit dan akan mengurangi kemampuan system untuk mengatasi stressor tambahan.

· Normal lines of defense terbentuk dari beberapa variabel dan prilaku seperti pola koping masyarakat, gaya hidup dan tahap perkembangan.

4. Flexible Lines of Defense

· Digambarkan sebagai lingkaran putus-putus paling luar yang berperan memberikan respon awal atau perlindungan pada system dari stressor.

· Diibaratkan sebagai suatu accordion yang bisa menjauh atau mendekat pada normal line of defense. Bila jarak antara flexible lines of defense dan normal lines of defense meningkat maka tingkat proteksipun meningkat.

· Melindungi normal line of defense dan bertindak sebagai buffer untuk mempertahankan keadaan stabil dari system klien.

· Bersifat dinamis dan dapat berubah dalam waktu yang relatif singkat.

· Hubungan dari berbagai variabel (fisiologi, psikologis, sosiokultur, perkembangan dan spiritual) dapat mempengaruhi tingkat penggunaan flexible lines of defense terhadap berbagai reaksi terhadap stressor.

5. Stressor

Adalah kekuatan lingkungan yang menghasilkan ketegangan dan berpotensial untuk menyebabkan system tidak stabil. Neuman mengklasifikasi stressor sebagai berikut :

1. Stressor Intrapersonal : terjadi dalam diri individu/keluarga/masyarakat dan berhubungan dengan lingkungan internal. Misalnya : kondisi geografis

2. Stressor interpersonal : yang terjadi pada satu individu/keluarga/masrakat yang memiliki pengaruh pada sistem. Misalnya : ekspektasi peran

3. Stressor ekstrapersonal : juga terjadi diluar lingkup sistem atau individu/keluarga/masyarakat tetapi lebih jauh jaraknya dari system daripada stressor interpersonal. Misalnya : sosial politik

Stressor interpersonal dan extrapersonal berhubungan dengan lingkungan eksternal. Created environment mencakup ketiga jenis stressor ini.

6. Reaksi

Merupakan ketidakstabilan system yang diakibatkan adanya invasi stressor pada normal lines of defense. Reaksi dan hasilnya bisa positif atau negatif yang selanjutnya dapat bergerak ke arah negetropy atau entropy.

7. Pendekatan klien secara Wholistik

Model system Neuman merupakan suatu pendekatan sistem yang terbuka dan dinamis terhadap klien yang dikembangkan untuk memberikan suatu kesatuan fokus definisi masalah keperawatan dan pemahaman terbaik dari interaksi klien dengan lingkungannya. Klien sebagai sistem bisa individu, keluarga, kelompok, komunitas atau issue.

8. Konsep Wholistic

Klien dipandang sebagai keseluruhan yang bagian-bagiannya berada dalam suatu interaksi dinamis. Konsep ini melibatkan seluruh variabel yang mempengaruhi klien secara simultan, yang mencakup fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual. Perubahan istilah dari Holistik menjadi Wholistik untuk meningkatkan pemahaman terhadap orang secara keseluruhan.

9. Sistem Terbuka

Elemen-elemen yang ada dalam sistem mengalami pertukaran energi informasi dalam organisasi kompleksnya. Stress dan reaksi terhadap stres merupakan komponen dasar dari sistem terbuka.

10. Proses atau Fungsi

Pertukaran energi, substansi dan informasi dengan lingkungan dan interaksi dari elemen-elemen dalam sistem. Suatu sistem kehidupan cenderung untuk bergerak kearah keseluruhan, stabilitas, kesehatan dan negentrophy.

11. Input dan Output

Substansi, energi dan informasi yang masuk atau keluar dari system

12. Feed Back

Proses dimana substansi, energi dan informasi yang merupakan output system diberikan umpan balik untuk perbaikan guna perubahan, peningkatan atau stabilitasasi system.

13. Negentrophy

Suatu proses penggunaan energi yang membantu sistem untuk maju ke arah stabilitas atau sehat.

14. Entropy

Suatu proses pengurangan energi yang menggerakkan sistem ke arah sakit atau kematian.

15. Stabilitas

Klien atau system dapat menangani stressor dengan baik, sehingga sakit atau kematian.

tan atau stabilitasasi system. perubazhan dapat mempertahankan kesehatan secara adekuat. Keseimbangan fungsional atau harmonis menjaga keutuhan integritas system.

16. Wellness

Wellness terjadi jika bagian-bagian dari klien berinteraksi secara harmonis. Kebutuhan-kebutuhan sistem terpenuhi.

17. Illness

Terjadi ketidakharmonisan diantara bagian-bagian dari sistem karena adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi.

18. Prevention atau Pencegahan sebagai Intervensi

· Merupakan tindakan-tindakan yang membantu untuk memperoleh, meningkatkan dan memelihara sistem keseimbangan, terdiri dari pencegahan primer, sekunder dan tertier.

· Pencegahan primer : terjadi sebelum system bereaksi terhadap stressor, meliputi : promosi kesehatan dan mempertahankan kesehatan. Pencegahan primer mengutamakan pada penguatan flexible lines of defense dengan cara mencegah stress dan mengurangi faktor-faktor resiko. Intervensi dilakukan jika resiko atau masalah sudah diidentifikasi tapi sebelum reaksi terjadi. Strateginya mencakup : immunisasi, pendidikan kesehatan, olahraga dan perubahan gaya hidup.

· Pencegahan sekunder. Meliputi berbagai tindakan yang dimulai setelah ada gejala dari stressor. Pencegahan sekunder mengutamakan pada penguatan internal lines of resistance, mengurangi reaksi dan meningkatkan faktor-faktor resisten sehingga melindungi struktur dasar melalui tindakan-tindakan yang tepat sesuai gejala. Tujuannya adalah untuk memperoleh kestabilan system secara optimal dan memelihara energi. Jika pencegahan sekunder tidak berhasil dan rekonstitusi tidak terjadi maka struktur dasar tidak dapat mendukung system dan intervensi-intervensinya sehingga bisa menyebabkan kematian.

· Pencegahan Tersier

Dilakukan setelah system ditangani dengan strategi-strategi pencegahan sekunder. Pencegahan tersier difokuskan pada perbaikan kembali ke arah stabilitas system klien secara optimal.

Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat resistansi terhadap stressor untuk mencegah reaksi timbul kembali atau regresi, sehingga dapat mempertahankan energy. Pencegahan tersier cenderung untuk kembali pada pencegahan primer.

19. Rekonstitusi

Adalah suatu adaptasi terhadap stressor dalam lingkungan internal dan eksternal. Rekonstitusi dapat dimulai menyertai tindakan terhadap invasi stressor.

Neuman (1995) mendefinisikan rekonstitusi sebagai peningkatan energi yang terjadi berkaitan dengan tingkat reaksi terhadap stressor. Rekonstitusi bisa memperluas normal line defense ke tingkat sebelumnya, menstabilkan system pada tingkat yang lebih rendah, dan mengembalikannya pada tingkat semula sebelum sakit.

Yang termasuk rekonstitusi adalah faktor-faktor interpersonal, intrapersonal, ekstrapersonal dan lingkungan yang berkaitan dengan variabel fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual.

Dengan demikian pengkajian difokuskan pada semua faktor sistem yang membuat stresor di komunitas yang meliputi 9 komponen yang dipakai sebagai dasar untuk intervensi dengan 3 prevensi atau pencegahan.

Saturday, April 4, 2009

Kehadiran Perawat Kita Semakin Populerkan Indonesia di Jepang


Tokyo ( Berita ) : Kehadiran para perawat (nurses) dan caregivers (perawat bagi kaum lanjut usai) asal Indonesia kini semakin mempopulerkan Indonesia yang sebelumnya hanya dikenal sebagian publik Jepang, mengingat baru pertama kali inilah Jepang menerima tenaga profesional perawat asing.

Demikian pernyataan yang disampaikan Dirut AOTS Kazuo Kaneko dalam acara penyerahan sertifikat kelulusan bahasa Jepang kepada 25 perawat Indonesia di Tokyo Kenshu Center (TKC), Tokyo, Kamis [12/02] . “Dari kalianlah sekarang ini banyak orang Jepang yang mengenal Indonesia. Saat bertugas nanti, buatlah semuanya menjadi teman baik. Sekali lagi selamat jalan,” kata Kaneko.

Acara serupa (yang diliput secara luas oleh media massa Jepang) juga berlangsung serentak di Kansai Kenshu Center (KKC), Osaka, dan di Nagoya. Seratus lebih perawat Indonesia itu akan memulai tugasnya pada keesokan harinya. Mereka akan ditempatkan di 70 rumah sakit yang tersebar di seantero Jepang.

Sebelumnya, pada akhir Januari 2009, sebanyak 104 caregivers Indonesia juga sudah lebih dulu ditempatkan di berbagai fasilitas rumah jompo Jepang. Mereka juga langsung ditempatkan keesokan harinya setelah menerima sertifikat kelulusan bahasa Jepang.

Selain AOTS (The Association for Overseas Technical Scholarship), lembaga lain yang ditunjuk pemerintah Jepang untuk mendidik para perawat dan caregivers Indonesia adalah Japan Foundation. Dalam sambutannya Kazuo Kaneko berpesan bahwa keesokan hari merupakan kehidupan nyata yang sesungguhnya. Para perawat diharapkan bisa memahami perbedaan yang akan ditemui dalam kehidupan sehari-hari tersebut.

“Terimalah mereka dengan hangat dan penuh pengertian,” kata Kaneko yang menyerahkan sendiri sertifikat tersebut ke tangan para perawat Indonesia. Sementara itu, Wakil Dubes RI untuk Jepang Ronny P Yuiantoro mengatakan bahwa para perawat mau tidak mau menjadi duta bangsa yang meningkatkan citra Indonesia. Apalagi para perawat merupakan pintu gerbang bagi kelanjutan program kedatangan perawat selanjutnya. “Tunjukkan bahwa kalian juga bisa membuktikan profesionalitas pekerja Indonesia,” kata Ronny.

Acara penyerahan disaksikan juga oleh Sekjen JICWELS (Japan International Corporation of Welfare Services) Tetsuji Nishiyama, dan pimpinan Funayama Hospital, Toyoko Takashima, yang mewakil pihak rumah sakit Jepang yang menerima perawat Indonesia.

Kejutkan Jepang

Usai sambutan dari pihak pimpinan, kini giliran sambutan dari para perawat Indonesia yang diwakili oleh Muhammad Yusuf. Tampil dengan gagah, mengenakan busana jas hitam lengkap, Yusuf pun memulai sambutannya dengan membungkukkan badan, yang merupakan penghormatan khas Jepang.

Ia pun dengan lancar memulai pidatonya dengan tenang dan lancar serta dalam tataran bahasa Jepang yang sangat sopan. Pidato yang disampaikan tanpa teks itu kontan saja membuat pimpinan JICWELS dan pihak rumah sakit serta wartawan Jepang terkejut, karena tata bahasa yang digunakannya tergolong bukan bahasa pasaran.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas apa yang telah kami terima selama enam bulan ini sehingga bisa bercakap-cakap dalam bahasa Jepang. Walaupun demikian kami masih harus terus belajar dengan giat mengingat masih banyak kekurangan yang ada pada kami,” katanya.

Tidak lupa, perawat asal RS TNI AL Bendungan Hilir, Jakarta, itu menyampaikan rasa terimakasihnya kepada para guru-guru dan semua pihak yang telah bekerja keras membuat mereka bisa seperti sekarang.

“Walau saat ini sedang musim dingin, namun hati kami sedang bersemi di Jepang ini,” demikian kata penutup dari Yusuf yang langsung disambut tepuk tangan seluruh tamu yang hadir.

Pujian atas pidato Yusuf datang langsung dari pihak JICWELS dan perwakilan rumah sakit Jepang ketika diminta memberikan sambutannya.

“Saya terkejut ada sambutan yang disampaikan perawat Indonesia dalam bahasa Jepang yang baik. Karena itu bangunlah terus rasa percaya orang Jepang kepada kalian, dan kami akan mendukung kalian agar bisa diterima di Jepang,” kata Tetsuji Nishiyama.

Ia juga yakin perawat Indonesia bisa menyelesaikan ujian nasional selanjutnya guna memperoleh sertifikasi keperawatan Jepang. Kekaguman serupa juga disampaikan Toyoko Takashima, pimpinan Funayama Hospital, yang menerima sejumlah tenaga perawat Indonesia. “Saya sendiri belum tentu bisa membawakan sambutan sebaik itu dalam bahasa Jepang yang baik pula,” kata Takashima yang meyakini kemampuan perawat Indonesia. ( ant )

Friday, March 27, 2009

Perawat Beralih Profesi Jadi Pelacur


Liputan6.com, Queenland: Gara-gara muak, beberapa perawat di Queenland, Australia, beralih profesi sebagai pelacur. Harian The Courier-Mail melaporkan, Senin (22/12), seorang perawat yang sudah bekerja selama 10 tahun mengaku dia dan paling tidak empat temannya telah pindah kerja sebagai pelacur. “Kami tidak tahan dengan lingkungan kerja yang kekurangan tenaga dan membuat stres,” ujar Jenna, bekas perawat.

Jenna dan perawat lainnya juga mengaku, gaji yang mereka terima tidak sesuai dengan tugas yang dikerjakan. Kalau perawat menyebabkan kematian akan didakwa. Namun tidak ada pengaruh berarti jika pekerjaan mereka berjalan mulus.

Berdasarkan survei serikat perawat di Australia menunjukkan, sebanyak 45 persen perawat pernah mengalami kekerasan dalam bekerja. Hal tersebut dibenarkan Jenna. Kekerasan di rumah sakit dianggapnya lebih rawan dibanding di tempat pelacuran. “Di rumah bordil, ada tombol alarm yang siap mendatangkan petugas keamanan jika pelanggan kurang ajar,” ujar Jenna memuji pekerjaan barunya.

Menteri Kesehatan negara bagian Queensland, Stephen Robertson, kecewa dengan perawat yang beralih karier itu. “Perawat di Queensland mendapat gaji terbesar sejak upah naik 26 persen pada tahun 2006,” katanya.

Namun Jenna punya pendapat lain. “Setelah Ledakan bom di Bali, unit luka bakar di rumah sakit Royal Brisbane and Women mendapat banyak tambahan pasien. Akhirnya, dokterlah yang mendapat penghargaan sedangkan perawat tidak mendapat apapun,”katanya.(OMI/ANTARA)

Asisten Perawat didenda Karena Membekukan Mayat.

Disebuah daerah di Chicago, seorang asisten perawat terkena pidana kejahatan besar dan denda atas biaya kelalaian mengakibatkan kematian seorang pasien berusia 89-an tahun di sebuah rumah perawatan. Pasien ditemukan dalam keadaan beku di sebuah bank di luar salju dekat rumah perawatannya (Nursing Home), DuPage pengacara negara Joe Birkett mengumumkan pada hari selasa lalu.

Heidi Leon, 23, dari Bensenville bernama felony di lima negara dalam kaitannya dengan Sarah’s Wentworth kematian di The Arbor dari Itasca.

Wentworth meninggalkan rumah sakit swasta dalam cuaca sangat dingin dan kemudian ditemukan mati di sebuah bank salju di halaman, kata Birkett

Leon diduga tidak memberikan tanda cek pada warga Wentworth setelah keluar dari pintu pemicu alarm dan dia juga berbohong kepada polisi, “ujarnya.

“The kematian Sarah Wentworth bukan kecelakaan,” ujar Birkett. “Jika dugaan tersebut adalah benar membuktikan … Heidi Leon gagal dalam memberikan perawatan.”

Seorang perempuan yang menjawab telepon di listing Heidi Leon berkata di Bensenville Leon tidak ada pada Selasa malam itu.

Leon dituduh dengan dua pidana, kelalaian dari perawatan fasilitas penduduk jangka panjang, dua dari felony counts pidana kelalaian dari orang tua dan satu hitungan keadilan.

Sumber:
http://www.chicagotribune.com/news/chi-ap-il-nursinghomefreezi,0,2129657.story

Tuesday, March 17, 2009

SUMPAH PROFESI NERS PSIK-UMS ANGKATAN 2

Perawat Indonesia Diminati

Permintaan akan tenaga perawat dari Indonesia oleh sejumlah negara hingga saat ini masih besar, seperti Yordania, Syria, Kuwait, Jepang, Korsel, Australia, Kanada dan Selandia Baru. Bahkan, Saudi Arabia masih membutuhkan sedikitnya 10.000 perawat untuk tahun ini.

"Tenaga perawat Indonesia cukup diminati oleh pemerintah Arab Saudi, mengingat dari segi keterampilan dan pendidikan sudah sesuai dengan standar yang mereka terapkan," ungkap Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati), Nurfaizi di Jakarta, Jumat (20/2).

Kendati demikian, menurut dia, penempatan perawat dari Indonesia ke luar negeri masih terkendala oleh masalah pengetahuan bahasa, dana penempatan, serta pengadaan tenaga perawat. Untuk melatih dan menyiapkan seorang TKI hingga penempatan, dibutuhkan biaya sedikitnya Rp 10 juta.

"Belum lagi jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan masih kurang karena sudah terserap untuk kebutuhan rumah sakit di dalam negeri," kata Nurfaizi yang berharap agar pemerintah membantu penyediaan dana baik melalui anggaran departemen maupun kucuran kredit penempatan tenaga kerja formal.

"Paling tidak pemerintah bisa menyiapkan SDM dan tenaga instruktur agar target penempatan tenaga kerja formal 50 persen berbanding 50 persen dengan tenaga informal bisa segera tercapai atau paling tidak mendekati," katanya.

Nurfaizi menambahkan, Perusahaan Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) terus berusaha meningkatkan pengiriman tenaga kerja formal ke luar negeri, khususnya di sektor perawat. Karena, permintaan mereka di Saudi Arabia dan negara Timur Tangah lainnya cukup tinggi. Peluang yang bagus itu juga terdapat di negara-negara Asia Pasifik.

Dalam upaya memenuhi permintaan Saudi Arabia, sebanyak 240 perawat binaan PT Amri Margatama dilepas Senin lalu dari kantornya di Bekasi. Perusahaan itu kini sudah menempatkan 2.193 perawat dengan upah sekitar sekitar 1.300 hingga 1.500 dolar AS per bulan atau sekitar Rp 16,5 juta per bulan.

Saat pelepasan yang dilakukan Nurfaizi itu, hadir antara lain Ketua Umum Himpunan Pengusaha Jasa TKI (Himsataki) Yunus Moh. Yamani, Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa TKI Asia Pasific (Ajaspac) Ismail Sumaryo, dan Ketua Umum Indonesia Employment Agencies Association (Idea) Adri Nelwan.

Direktur PT Amri Margatama Said Umar mengungkapkan, tenaga perawat yang direkrut untuk ditempatkan di Saudi Arabia berasal dari seluruh wilayah Indonesia. Hal itu dilakukan melalui kerja sama dengan salah satu rumah sakit swasta di daerah.

"Dengan rumah sakit itu dilakuka perekrutan dan melatihnya selama dua bulan. Setelah itu, mereka ditarik ke BLK Amri Margatama di Jatiasih Bekasi untuk dilatih lagi, khususnya penggunaan bahasa Inggris dan Arab," kata Said.

Untuk biaya perekrutan dan penempatan, menurut dia, pihaknya harus menanggung semua biayanya. Namun, setelah mereka bekerja di Saudi Arabia maka pembayarannya baru diperhitungkan. (A-78/A-26).

Thursday, March 12, 2009

PERAN PERAWAT KOMUNITAS DALAM PRAKTEK ASUHAN KEPERAWATAN


Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal disuatu tempat, saling berinteraksi satu sama yang lain, saling mengenal serta mempunyai minat dan interest yang sama. (WHO).

Komunitas adalah kelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang sama dan dibawah pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang sama dimana mereka tinggal, kelompok sosial yang mempunyai interest yang sama (Linda Jarvis)

Komunitas dipandang sebagai target pelayanan kesehatan sehingga diperlukan suatu kerjasama yang melibatkan secara aktif masyarakat untuk mencapai peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang optimal, untuk itu dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang diberikan di komunitas merupakan suatu upaya yang essensial atau sangat di butuhkan oleh komunitas, mudah dijangkau, dengan pembiayaan yang murah, lebih ditekankan pada penggunaan teknologi tepat guna.

Peran serta masyarakat sangatlah dibutuhkan, dimana individu, keluarga maupun masyarakat sebagai pelaku kegiatan upaya peningkatan kesehatan serta bertanggungjawab atas kesehatannya sendiri berdasarkan asas kebersamaan dan kemandirian.

Keperawatan komunitas merupakan sintesa dari praktik keperawatan dan praktek kesehatan masyarakat yang diaplikasikan untuk meningkatkan kesehatan dan pemeliharaan kesehatan dari masyarakat.

Praktik dilaksanakan secara komprehensif dan umum , tidak hanya terbatas pada usia kelompok tertentu atau diagnosa tertentu. Tanggung jawab yang dominan adalah terhadap komunitas secara keseluruhan dan pelayanannya diberikan secara langsung, berkelanjutan dan tidak episodic yang ditujukan kepada individu , keluarga dan kelompok maupun masyarakat.

Bantuan yang diberikan berorientasi pada ketidaktahuan, ketidakmampuan serta ketidakmauan masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatannya atau upaya peningkatan pengetahuan, ketrampilan serta sikap dalam menghadapi masalah kesehatan yang sedang dihadapinya.

Keperawatan komunitas mempunyai tujuan membantu masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan terhadap penyakit melalui:

· Pemberian asuhan keperawatan secara langsung kepada individu, keluarga dan kelompok dalam masyarakat, dengan strategi intervensi yaitu proses kelompok, pendidikan kesehatan serta kerjasama ( partnership).

· Memperhatikan secara langsung terhadap status kesehatan seluruh masyarakat secara komprehensif, dengan sasaran seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga serta kelompok yang beresiko tinggi.

Pada praktek asuhan keperawatan komunitas harus mempertimbangkan beberapa prinsip, diantaranya adalah:

· Kemanfaatan

Semua tindakan dalam asuhan keperawatan komunitas harus memberikan manfaat yang besar bagi komunitas.

· Kerjasama.

Kerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat berkelanjutan serta melakukan kerjasama lintas program dan sektoral.

· Secara langsung.

Asuhan keperawatan diberikan secara langsung: mengkaji dan intervensi klien dan lingkungannya termasuk lingkungan sosial, ekonomi serta fisik, mempunyai tujuan utama peningkatan kesehatan dan pencegahan kesehatan.

· Keadilan.

Tindakan yang dilakukan harus disesuaikan dengan kemampuan atau kapasitas dari komunitas itu sendiri.

· Autonomi

Klien/komunitas diberi kebebasan dalam memilih serta melaksanakan beberapa alternatif terbaik dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang ada

Beberapa keyakinan yang mendasari praktek asuhan keperawatan komunitas yaitu:

1. Pelayanan kesehatan sebaiknya tersedia, dapat dijangkau, dapat diterima oleh semua orang.

2. Penyusunan kebijakasanaan kesehatan seharusnya melibatkan penerima pelayanan kesehatan.

3. Perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan dan klien sebagai penerima pelayanan kesehatan dapat membentuk kerjasama untuk mendorong dan mempengaruhi perubahan dalam kebijakan dan pelayanan kesehatan.

4. Lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan penduduk, kelompok, keluarga dan individu.

5. Pencegahan penyakit sangat diperlukan untuk peningkatan kesehatan.

6. Kesehatan merupakan tanggungjawab setiap individu.

7. Klien merupakan anggota tetap tim kesehatan.

Individu dalam komunitas bertanggungjawab untuk kesehatannya sendiri dan harus didorong serta dididik untuk berperan dalam pelayanan kesehatan.

Dalam memberikan pelayanan keperawatan komunitas , perawat dapat berperan sebagai :

· Pelaksana

· Pendidik

· Pengelola

· Peneliti

· Manager

· Konsultan dalam keperawatan komunitas.

Perawat komunitas dapat bekerja diberbagai tatanan : klinik rawat jalan , kantor kesehatan , kesehatan kerja , sekolah , rumah , perkemahan , institusi pemeliharaan kesehatan , tempat – tempat pengungsian , dll.