WELCOME--- SUGENG RAWUH--- SELAMAT DATANG--- AHLAN WASAHLAN---"BERSATU KITA MAMPU"... WELCOME--- SUGENG RAWUH--- SELAMAT DATANG---AHLAN WASAHLAN--- "BERSAMA KITA BISA"...

Tuesday, February 18, 2014

TEORI-TEORI PERILAKU KESEHATAN

 
 
PERILAKU KESEHATAN
  1. Perilaku manusia merupakan  resultan dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal
  2. Faktor determinan perilaku manusia luas, namun beberapa ahli mencoba merumuskan teori terbentuknya perilaku manusia
  3. Teori perilaku manusia yang akan kita bahas kali ini adalh : Teori ABC, Reason Action, “PRECED-PROCEED”, Behavior intention, Thoughs and Feeling.
 
TEORI ABC (Sulzer, Azaroff, Mayer : 1977 )
Menurut teori ini perilau manusia merupakan sutu proses sekaligus hasil interaksi antara :
Antecedent Behavior Consequences
  1. Antecedent         : trigger, bisa alamiah ataupun man made
  2. Behavior             : reaksi terhadap antecedent
  3. Consequences : bisa positif( menerima), atau negatif ( menolak )
Contoh: 
Penyuluhan di Posyandu tentang bagaimana agar anak mau makan banyak, salah satunya dengan membuat tampilan makanan menarik (A), Ibu membuat tampilan makanan semenarik mungkin ( B ), Anak mau makan banyak ( C )
 
TEORI“REATION ACTION” (FESBEIN &AJZEN :1980 )
Teori ini menekankan pentingnya “intention”/niat sebagai faktor penentu perilaku

Niat itu sendiri ditentukan oleh :
  • sikap
  • norma subjektif
  • pengendalian perilaku
Contoh : Seorang ibu yang mau mengimunisasikan anaknya didasari niat, dimana niat itu ditentukan oleh sikap ibu yang setuju dengan imunisasi, keyakinan ibu akan perilaku yang diambil dan sudah siap bila anaknya panas setelah diimunisasi.

TEORI PRECED-PROCEED
( Lawrence Green : 1991 )
Perilaku kesehatan ditentukan oleh faktor :
Predisposing factors, terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai Enabling factors, tersedianya atau tidak tersedianya fasilitas Reinforcing factors, terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau dari kelompok referensi dari perilaku masyarakat
Contoh : 
Seorang bapak mau membangun WC yang sebelumnya masih BAB di sungai karena :
  1. Ia tahu BAB di jamban lebih sehat( Pf)
  2. Ia punya bahan bangunan untuk memebangun WC( Ef )
  3. Ada surat edaran dari Pak Lurah agar setiap kelurga mempunyai WC ( Rf)
Secarq matematis : B = f ( Pf, Ef, Rf )

TEORI BEHAVIOR INTENTION
( Snehendu Kar : 1980 )
Menurut teori ini, perilaku kesehatan merupakan fungsi dari :
  1. Behavior intention
  2. Social support
  3. Accessibility to information
  4. Personal autonomy
  5. Action situation

    B = f ( BI, SS, AI, PA, AS )
Contoh: 
Seorang ibu melahirkan di dukun yang belum mengikuti pelatihan asuhan persalinan normal, bukan di tenaga medis terlatih, mungkin dikarenakan  :
  1. Tidak ada niat melahirkan di bidan(BI)
  2. Tidak ada tetangganya yang melahirkan di bidan(SC)
  3. Tidak mendapat informasi persalinan yang sehat(AI)
  4. Tidak bebas menentukan, takut mertua(PA)
  5. Kondisi jauh dari puskemas(AS)
TEORI“THOUGHT AND FEELING”
( WHO:1984)
Menurut teori ini perilaku kesehatan seseorang ditentukan oleh :
  1. Thoughts and feeling
  2. Personal reference
  3. Resources
  4. Culture
 
B = f ( TF, PR, R, C )

Contoh : 
Seorang ibu habis melahirkan tidak mau menyusui anaknya, karena dia punya keyakinan kalau payudaranya akan hilang keindahannya bila menyusui (TF), atau karena artis yang diidolakannya tidak menyusui sehingga dia mengikuti (PR), atau karena harus bekerja, tidak ada waktu untuk menyusui (R), atau karena kebudayaan di daerah ibu tersebut lebih keren kalau memberi susu formula daripada ASI, makin mahal harga susu maka status sosial makin naik (C).
 
TEORI-TEORI PERUBAHAN PERILAKU KESEHATAN
Teori perubahan perilaku kesehatan ini penting dalam promosi kesehatan yang bertujuan “behavior change”
Perubahan perilaku ini diarahkan untuk :
  1. mengubah perilaku negatif ( tidak sehat ) menjadi perilaku positif ( sesuai dengan nilai-nilai kesehatan )
  2. pembentukan atau pengembangan perilaku sehat
  3. memelihara perilaku yang sudah positif
Teori-teori yang akan kita bahas adalah : Teori SOR, Festinger, Fungsi, Kurt Lewin
 
TEORI PERUBAHAN PERILAKU KESEHATAN
Menurut teori ini, penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsang( stimulus ) yang berkomunikasi dengan organisme. Perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula (mampu meyakinkan). Karena itu kualitas dari sumber komunikasi sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku, misalnya gaya bicara, kredibilitas pemimpin kelompok, dsb

DISSONANCE THEORY(FESTINGER :1957)
Ada suatu keadaan cognitive dissonance yang merupakan ketidakseimbangan psikologis, yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali.Dissonance tejadi karena dalam diri individu terdapat elemen kognisi yang bertentangan, pengetahuan, pendapat atau keyakinan. Apabila terjadi  penyesuaian secara kognitif, akan ada perubahan sikap yang berujung perubahan perlaku.
Contoh : 
Orang yang merokok merasa resah, dia tahu bahaya merokok tapi merasa bukan laki-laki kalau tidak merokok (dissonance). Akhirnya dia memutuskan kalau kejantanan seseorang bukan hanya dari merokok, tapi dari banyak hal.Akhirnya dia memutuskan berhenti merokok (consonance).

TEORI FUNGSI ( Katz : 1960 )
Meurut teori ini perilaku mempunyai fungsi :
  1. instrumental
  2. defence mechanism
  3. penerima objek dan pemberi arti
  4. nilai ekspresif
Perubahan perilaku individu tergantung kebutuhan
Stimulus yang dapat memberi perubahan perilaku individu adalah stimulus yang dapat dimengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut.

TEORI KURT LEWIN (1970)
Menurut Kurt Lewin, perilaku manusia adalah suatu keadaan seimbang antara driving forces (kekuatan-kekuatan pendorong)   dan restrining forces (kekuatan-kekuatan penahan). Perilaku dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut. Ada tiga kemungkinan terjadinya perubahan perilaku :
 
Kekuatan pendorong, kekuatan penahan tetap perilaku baru 
Contoh : seseorang yang punya saudara dengan penyakit  kusta sebelumnya tidak mau memeriksakan saudaranya karena malu dikira penyakit keturunan, dapat berubah perilakunya untuk memeriksakan saudaranya ke puskesmas karena adanya penyuluhan dari petugas kesehatan terdekat tentang pentingnya deteksi dini kusta. 
 
Kekuatan penahan, pendorong tetap perilaku baru 
Misalnya pada contoh di atas , dengan memberi pengertian bahwa kusta bukan penyakit keturunan, maka kekuatan penahan akan melemah dan terjad perubahan perilaku

Kekuatan penahan, pendorong, perubahan perilaku.
Misalnya pada contoh di atas dua-duanya dilakukan.

BENTUK PERUBAHAN PERILAKU
Menurut WHO, perubahan perilaku dikelompokkan menjadi tiga :
  1. Natural change, Sebagian perubahan perilaku manusia karena kejadian alamiah
  2. Planned change, Perubahan perilaku karena memang direncanakan sendiri
  3. Readiness to Change, Kesediaan untuk berubah terhadap hal-hal baru.
 
STRATEGI PERUBAHAN PERILAKU (WHO)
  1. Menggunakan kekuatan (Enforcement)
  2. Menggunakan kekuatan peraturan atau hukum (Regulation)
  3. Pendidikan (Education)

KOMUNIKASI DALAM KEPERAWATAN

 

KOMUNIKASI

DEFINISI
Komunikasi berasal dari kata “to commune” yang berarti “menjadikan milik bersama”. Wilbur Scrahman : berasal dari kata latin “ COMMUNICARE ” atau “COMUNIS ” berarti milik bersama à komunikasi harus dinikmati bersama
Definisi komunikasi adalah :
1. Pertukaran informasi antara dua atau lebih manusia atau dengan kata lain pertukaran ide dan pikiran (Kozier & Erb, 1995)
2. Proses pengoperan lambang yang memiliki arti di antara individu (William Ablig)
3. Proses ketika seseorang individu (komunikator) mengoper perangsang (biasanya lambang bahasa) untuk mengubah tingkah laku individu yang lain (komunikan) (Carl I. Hovland)
4. Proses berbagi (sharing) informasi atau proses pembangkitan dan pengoperan arti (Taylor, Lilis, Le Mone)
5. Kegiatan / proses pengoperan lambang yang mengandung arti / makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak-pihak yang terlibat (Dr. Phill Astrid Susanto)
6. Proses lewatnya informasi dan pengertian seseorang ke orang lain (Keith Davis)
7. Pengiriman atau tukar menukar informasi, ide dan sebagainya (Oxford dictionary, 1956)
8. Komunikasi mencakup expresi wajah, sikap dan gerak-gerik suara, kata-kata tertulis, percetakan, kereta api, telegraf, telephone dll. (Drs. Onong Uchyana Effendy, MA)
9. Pemindahan informasi dari satu orang ke orang lain terlepas percaya atau tidak, tetapi informasi yang di transfer tentulah harus dimengerti oleh penerima (Harold Koont & Cyril O’Donell)

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan komunikasi :
a. merupakan kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih
b. merupakan bentuk pembagian ide, pikiran, fakta, pendapat
c. melalaui lambang-lambang yang dimengerti oleh yang melakukan komunikasi
d. memiliki tujuan terjadi perubahan pada orang lain
e. penyampaiannya sendiri melalui suatu proses

KOMPONEN-KOMPONEN KOMUNIKASI

Ada 5 faktor yang berperan dalam komunikasi antara lain :
1. Komunikator (Pembawa berita)
- Disebut juga sender / pembawa pesan, bisa individu, keluarga maupun kelompok yang mengambil inisiatif dalam menyelenggarakan komunikasi dengan individu atau kelompok lain yang menjadi sasarannya.
- Komunikator bisa juga berarti tempat berasalnya sumber pengertian yang dikomunikasikan.
- Dalam mengirimkan pesan dimulai dengan pikiran dan perasaan komunikator yaitu dunia intra psikis dan pengetahuan bahwa pikiran dan perasaan ini harus diubah menjadi sandi ke dalam bentuk perilaku (pesan) jika mereka ingin dikeluarkan dari dunia internal dan dikomunikasikan kepada orang lain (komunikan).
- Syarat komunikator yang baik :
  •   memiliki tujuan dalam melakukan komunikasi
  •   memiliki pengetahuan yang memadai tentang pesan yang disampaikan
  •   memiliki ketrampilan yang memadai untuk membangun hubungan / relasi.

2. Message (Pesan atau berita)
- Message atau pesan adalah berita yang disampaikan oleh komunikator melalui sandi, lambang, pembicaraan, gerakan dan sebagainya.
- Message bisa berupa gerakan, sinar, suara, lambaian tangan, kibaran bendera, tanda-tanda lain, dengan interpretasi yang tepat akan memberikan arti dan makna tertentu.
- Di Rumah Sakit message ini dapat berupa nasehat perawat, hasil konsultasi pada status pasien, laporan dll.
- Message mengandung arti ganda : pesan dikirim untuk menciptakan arti tetapi bisa juga di gunakan secara defensif.
- Syarat pesan yang baik :
 sesuai konteks (situasi komunikasi)
 singkat dan jelas
 menggunakan saluran yang mudah dipahami oleh komunikator dan komunikan
 memungkinkan pengulangan dan penegasan pesan

3. Channel (Media atau sarana)
- Channel atau saluran adalah sarana tempat berlakunya lambang-lambang.
- Meliputi :
 Pendengaran (lambang berupa suara)
 Penglihatan (lambang berupa sinar, pantulan sinar atau gambar)
 Penciuman (lambang berupa bau-bauan)
 Rabaan ( lambang berupa rangsangan sensasi / taktil)
 Perasa (rasa)
- Jadi saluran ini dapat berupa : radio, televisi, majalah, aroma makanan dll.
- Syarat saluran yang baik :
 dipahami / dimengerti oleh komunikator dan komunikan
 meminimalkan kesalahan persepsi
 menggunakan teknik yang merangsang lebih dari satu indra ; misalnya, mengajar dengan menggunakan suara, gambar dan gerakan tubuh.

4. Komunikan (Penerima berita)
- Komunikan adalah obyek sasaran dari kegiatan komunikasi atau orang yang menerima berita atau lambang.
- Bisa berupa pasien, individu, keluarga atau masyarakat.
- Syarat komunikan yang baik :
 memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk menangkap dan menerjemahkan pesan
 memiliki cukup atensi untuk menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator
 memiliki ketrampilan untuk merespons pesan yang disampaikan

5. Feed back (Umpan balik atau tanggapan)
- Yaitu arus umpan balik dalam rangka proses berlangsungnya komunikasi.
- Dapat dijadikan patokan sejauh mana pencapaian dari pesan yang telah disampaikan.

PROSES KOMUNIKASI
Proses komunikasi dapat di gambarkan sebagai berikut :
a. Komunikator
1. Mengembangkan ide atau pikiran yang ingin disampaikan
2. Mengkode ide atau pikiran dalam bentuk lambang verbal atau non verbal.
3. Menyampaikan pesan melalaui saluran komunikasi dan menggunakan metode tertentu
4. Menunggu umpan balik dari komunikan untuk mengetahui keberhasilan komunikasi.
b. Komunikan
1. Menerima lambang-lambang yang disampaikan oleh komunikator.
2. Membaca atau menyandi lambang verbal atau non verbal yang di sampaikan oleh komunikator.
3. Menggunakan pesan yang telah di sampaikan.
4. Memberikan umpan balik kepada komunikator.

SYARAT KOMUNIKASI EFEKTIF
Syarat komunikasi yang efektif, yang selanjutnya di kenal dengan Tujuh C dalam komunikasi (The Seven C’s of Communication) yaitu :
1. Credibility (kredibilitas)
Adalah pengakuan komunikan terhadap keberadaan komunikator. Posisi dan kedudukan dalam strata sosiokultural tertentu mempengaruhi pengakuan dan kredibilitas seseorang.
2. Context (konteks)
Situasi dan kondisi relevan dengan keadaan si penerima pesan. Situasi dan kondisi dapat meliputi konsentrasi dan perhatian (atensi) individu yang terlibat dalam komunikasi maupun situasi dan kondisi lingkungan tempat penyelenggaraan komunikasi.
3. Content (isi)
Merupakan materi yang akan disampaikan sebagai pesan oleh komunikator, yang berpengaruh bagi penerima pesan.
4. Clarity (kejelasan)
Pesan yang disampaikan oleh komunikator diterima dan dimengerti oleh penerima.
5. Continuity dan consistency (kontinuitas dan konsistensi)
Pesan yang disampaikan konsisten dan berkesinambungan dan tidak menyimpang dari topik yang telah ditetapkan.
6. Channel (saluran)
Saluran yang digunakan dalam komunikasi sesuai dan memungkinkan penerimaan yang baik oleh komunikan.
7. Capability of audience ( kemampuan komunikan)
Materi (isi pesan) dan teknik penyampaian pesan disesuaikan dengan kemampuan penerimaan sasaran, sedangkan pesan itu sendiri mudah diterima dan tidak membingungkan.

KARAKTERISTIK DASAR KOMUNIKASI :
1. Komunikasi memerlukan sedikitnya dua orang.
2. Hubungan yang terbentuk merupakan hasil kegiatan komunikasi
3. Komunikasi terjadi secara kontinu dan berulang-ulang
4. Seseorang yang melakukan komunikasi, melakukan pertukaran pesan secara verbal dan non verbal.
5. Komunikasi verbal dan non verbal berlangsung simultan
6. Seseorang yang melakukan komunikasi berespons terhadap pesan yang mereka dapat.
7. Pesan yang diterima (oleh komunikan) tidak selalu sama dengan arti pesan yang di maksud sebelumnya (oleh komunikator) atau seperti yang diharapkan komunikator.
8. Pertukaran pesan memerlukan pengetahuan
9. Pengalaman masa lalu mempengaruhi pengiriman pesan dan interpretasi pesan oleh penerima pesan dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu.
10. Komunikasi dipengaruhi oleh cara seseorang menilai dirinya sendiri dan oleh materi yang dikomunikasikan.
11. Posisi seseorang dalam suatu sistem sosiokultural dapat mempengaruhi proses komunikasi.

PERSIAPAN DALAM KOMUNIKASI
Persiapan ini meliputi :
1. Persiapan situasi dari komunikator yang berisi :
• Kapan, dimana, siapa sasarannya, apakah topiknya, cara penyampaiannya, alasan ?
2. Seleksi materi atau bahan
• Wawasan pengetahuan yang luas sangat besar peranannya. Harus selektif menentukan materi yang akan diberikan dan tidak. Semakin banyak materi akan semakin baik, tetapi selektif terhadap materi akan lebih memberikan nilai tambah terhadap hasilnya nanti.
3. Membuat garis besar
• Menyusun secara sistematis, mengoreksi, dan membuat garis besar dari pokok-pokok yang hendak disampaikan berupa ringkasan.
4. Latihan yang intensif
• Dengan latihan yang intensif akan bisa memberikan penyuluhan dengan baik.

TIPE KOMUNIKASI
Berbagai macam komunikasi menurut jenisnya dapat dibagi menjadi :
1. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaannya komunikasi dibagi menjadi :
- Komunikasi formal
Komunikasi formal adalah komunikasi yang terjadi antara bawahan dan atasan dalam lingkup pekerjaan yang secara hirarkis berbeda. Komunikasi ini terjadi dalam situasi formal.
- Komunikasi informal
Komunikasi informal adalah komunikasi yang dalam pelaksanaannya tidak mengenal hirarki dan komunikasi informal tidak ada sangsinya.

2. Proses
Berdasarkan proses komunikasi dibagi menjadi :
- Komunikasi primer
Komunikasi tanpa menggunakan media (hanya berbentuk bahasa dan gerak tubuh)
- Komunikasi sekunder
Menggunakan media untuk melipat gandakan jumlah penerima pesan (alasan geografis, waktu dan jarak)

3. Umpan balik
Berdasarkan umpan balik komunikasi dibagi menjadi :
- Komunikasi satu arah
Komunikasi satu arah maksudnya komunikator tidak memberi kesempatan kepada komunikan untuk meminta penjelasan, pembenaran dll. Komunikasi satu arah hanya menjamin penyampaian pesan.
- Komunikasi dua arah
Komunikasi dua arah mempunyai sistem umpan balik yang melekat. Komunikasi ini menjamin bahwa informasi jelas dan terbuka untuk pertanyaan yang belum jelas.
- Komunikasi berantai
Komunikator menyampaikan pesan kepada komunikan 1, diteruskan pada komunikan 2, 3, 4 dst. Kelemahan pesan yang disampaikan sudah tidak murni dan mengalami distorsi informasi sehingga pesan menyimpang dari yang sebenarnya.

4. Bentuknya
Menurut bentuk komunikasi di bagi menjadi :
- Komunikasi verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang mempergunakan lambang bahasa dalam penyampaian pesan kepada penerima. Komunikasi ini di bagi menjadi dua yaitu verbal tulis dan lisan.
- Komunikasi non verbal
Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang menggunakan lambang bukan bahasa, dapat berwujud gambar, isyarat dll. Berhubungan dengan bahasa tubuh (body language) yaitu gerak tubuh, ekspresi wajah, pandangan, postur, jarak tubuh dan kedekatan, sentuhan dan pakaian.

BODY LANGUAGE
 Bahasa tubuh telah menjadi topik yang populer baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam penelitian ilmiah yang serius tentang interaksi hewan dan manusia
 Tanda-tanda visual juga membawa arti yang penting dan dapat menggantikan, menambah atau membalikkan arti sebuah pesan verbal
 Contoh :
Seorang bayi mengkomunikasikan kebutuhannya yang mendesak dan kepuasannya secara efektif dan menarik melalui gerakan tubuh dan tangisan serta suara-suara non verbal.

BEBERAPA MACAM BODY LANGUAGE :
1. Gerak Tubuh
Ketika berbicara orang mengadakan gerakan dengan tangan mereka. Dengan gerakan tangan ini orang menggambarkan bentuk dengan dan tanpa diikuti gerakan tangan (Argyle,1992)
Contoh :
• Meluruskan tangan untuk mengungkapkan kepercayaan diri
• Menganggukkan kepala kecil untuk menunjukkan perhatian, anggukan yang lebih besar menunjukkan setuju

2. Ekspresi wajah
Mungkin karena sangat bernilai dalam daya tahan hidup dimasa bayi, variasi yang samar dari senyuman atau pandangan sudah kita kenali, terutama dari lokasi sekitar mata dan mulut. Apakah seorang pendengar merasa senang, bingung atau terganggu dapat kita kenali dengan mengamati sekitar mata dan mulut

3. Pandangan
Masih berhubungan dengan hal diatas, pandangan adalah hal yang penting dalam menilai tanda-tanda non verbal. Pandangan terkoordinasi erat dengan bicara: Pembicara biasanya memandang pendengar sebelum memutuskan tata bahasa dan terutama sebelum berakhirnya perkataan. Pembicara sering menatap ke kejauhan ketika mereka mulai bicara atau sedang berpikir tentang apa yang mereka katakan

4. Postur
• Cara tubuh ditopang memberi petunjuk umum ttg kepercayaan diri, perhatian, kebosanan, konfrontasi dan reaksi spesifik lainnya.
• Normalnya orang berdiri dengan tubuh sedikit menjauh dari satu sama lainnya ketika sedang berbicara untuk menunjukkan keramahan yang sopan atau kenetralan.
• Suatu budaya dapat menimbulkan ketidaksesuaian yang menjurus ke salah-pengertian dan bahkan pelanggaran

5. Jarak tubuh dan kedekatan
• Orang membutuhkan ruang tertentu disekeliling mereka agar mereka merasa nyaman dan kebutuhan ini berbeda-beda, tergantung pada : usia. jenis kelamin dan budaya.
• Terhimpit dengan orang lain dalam ruang yang kecil di lift atau bis yang penuh pada umumnya menimbulkan perasaan kaku dan tidak nyaman dan akan reda jika ruang pribadi telah didapatkan kembali
• Orang dewasa akan menjaga jarak sekitar satu lengan dengan orang lain

6. Sentuhan
• Sentuhan menunjukkan banyak hal tentang sifat hubungan dan derajat persahabatan diantara dua orang.
• Dapat digunakan sebagai tanda kedudukan
• Orang yang kedudukannya lebih tinggi dapat menyentuh bawahannya
• Sentuhan membawa pesan yang ampuh seperti yang diketahui oleh para : kekasih, teman, saudara, korban pelecehan/kekerasan seksual

7. Pakaian
Cara dan jenis pakaian, rambut, perhiasan dan rias wajah berbicara banyak tentang kepribadian, peran, pekerjaan, status, dan suasana hati seseorang.

ISYARAT-ISYARAT NON VERBAL DARI SIKAP YANG BERSAHABAT (ARGYLE,1992)
• Kedekatan : Lebih dekat miring kedepan ketika duduk
• Arah : Lebih berhadapan langsung tetapi suatu saat berdampingan
• Pandangan : Lebih banyak memandang dan saling memandang
• Ungkapan Wajah : Lebih banyak senyum
• Gerak Tubuh : Anggukan kepala dan gerakan semangat
• Postur: Membuka lengan kearah satu sama lain dan bukan dilipat atau bertolak pinggang
• Sentuhan : Sentuhan dengan cara yang tepat
• Nada Suara : Suara yang murni, nada lebih tinggi, konturnya kearah atas
• Isi Verbal : Lebih banyak membuka diri

FOUR BASIC PRINCIPAL COMMUNICATION (WATZLAWICK)
1. Seseorang tidak bisa tidak berkomunikasi
2. Setiap komunikasi mempunyai sebuah isi, dan aspek hubungan dimana yang berikutnya mengklasifikasi yang sebelumnya dan karenanya adalah sebuah metakomunikasi
3. Sebuah seri komunikasi dapat dilihat sebagai sebuah seri pembicaraan yang tidak terputus
4. Semua hubungan komunikasi adalah simetris atau komplementer tergantung pada apakah mereka didasarkan pada kesetaraan atau ketidaksetaraan

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Ditinjau dari Komunikator :
1. Kecakapan komunikator :
- Komunikator yang baik adalah komunikator yang dapat menguasai cara-cara menyampaikan buah pikiran, mudah dimengerti, sederhana, baik secara lisan maupun tertulis.
- Cakap dalam memilih lambang atau simbol yang tepat untuk mengungkapkan buah pikirannya.
- Pandai menarik perhatian.
- Dapat memancing lawan bicara untuk dapat mengemukakan pendapatnya.
- Tidak berbelit-belit dalam menyampaikan pendapatnya.

2. Sikap Komunikator :
- Sikap komunikator yang baik akan memperlancar suatu proses komunikasi.
- Sikap sombong, angkuh, menyebabkan pendengar enggan dan menolak uraian komunikator.
- Cara duduk yang angkuh, tidak mau mendengar pendapat orang lain adalah cara atau sikap yang tidak terpuji.
- Sikap ragu-ragu dapat menyebabkan pendengar atau pemirsa kurang percaya terhadap komunikator.
- Sikap tegas yang ditampilkan harus bersumber pada hubungan kemanusiaan yang baik, sehingga pendengar percaya terhadap uraian komunikator.
- Semakin baik hubungan antar manusia, makin memperlancar arus komunikasi.
- Sikap yang mendukung berhasilnya komunikasi adalah : sikap tebuka, muka manis, saling percaya, rendah hati dan dapat menjadi pendengar yang baik.

3. Pengetahuan Komunikator :
Keberhasilan dari komunikasi dipengaruhi kekayaan (wawasan) pengetahuan pihak komunikator. Semakin dalam komunikator menguasai masalah akan semakin baik dalam memberikan uraian-uraiannya.

4. Sistem Sosial :
Komunikasi di pengaruhi pula oleh sosial. Sebagai contoh pembicaraan seorang bawahan terhadap atasan akan berbeda dengan pembicaraan kepada teman setingkat. Demikian pula bagi mereka yang berbicara di depan masyarakat tertentu, mereka akan menyesuaikan pula sifat-sifat masyarakat tadi. Hal ini sangat penting untuk mengurangi kesenjangan.

5. Pengaruh Komunikasi :
Pengaruh komunikasi yang lain adalah saluran atau alat tubuh dari komunikator terutama dalam komunikasi lisan. Misalnya : suara mantap, ucapan jelas, intonasi suara yang tidak monoton akan lebih banyak menarik perhatian atau minat pendengar. Gerak-gerik tubuh dapat diatur sedemikian rupa untuk mendukung suatu pembicaraan.
Oleh karena itu bila ingin berhasil dalam komunikasi alat-alat tubuh kita harus baik pula, terutama alat indera dan alat bicara.

Ditinjau dari Komunikan :
Dalam hal ini komunikasi dipengaruhi oleh :
1. Kecakapan
2. Sikap
3. Pengetahuan
4. Sistem sosial
5. Saluran (pendengaran, penglihatan) dari komunikan.

FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT KOMUNIKASI :
1. Kecakapan yang kurang dalam berkomunikasi. Kurang cakap berbicara (terutama di depan umum), berbicara tersendat-sendat, menyebabkan pendengar menjadi jengkel dan tidak sabar.
2. Sikap yang kurang tepat. Seorang guru yang sedang mengajar di depan kelas sambil duduk di atas meja akan memberi kesan yang kurang baik bagi siswanya.
3. Kurang pengetahuan. Seseoarang yang kurang pengetahuannya, jarang membaca atau mendengarkan radio dan televisi akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pembicaraan orang lain.
4. Kurang memahami sistem sosial.
5. Prasangka yang tidak beralasan.
6. Jarak fisik, komunikasi menjadi kurang lancar bila jarak antara komunikator dengan reseptor berjauahan.
7. Tidak ada persamaan persepsi.
8. Indera yang rusak.
9. Berbicara yang berlebihan. Berbicara berlebihan seringkali akan mengakibatkan penyimpangan dari pokok pembicaraan.
10. Mendominir pembicaraan dll.

Monday, November 5, 2012

Beda Handout, Modul, Buku dan Diktat

 A. Diktat
Diktat adalah bahan pembelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum dan silabus, terdiri dari bab-bab, memuat detail penjelasan, referensi yang digunakan, memiliki standar jumlah halaman tertentu dan biasanya dipersiapkan atau dikembangkan sebagai buku.
Diktat berisi:
1. Pedoman substansi :
Substansi diktat disusun berdasarkan kurikulum, silabi dan SAP
2. Pedoman format:
Bagian-bagian yang harus ada:
a. Bagian Awal
1) Halaman Sampul
2) Halaman Penulis dan Penerbit
a) Halaman Persembahan (ungkapan untuk siapa saja), jika diperlukan
b) Halaman Pengesahan atau validasi standar UII.
3) Kata Pengantar
Memberikan informasi garis besar tentang diktat yang ditulis:
a) Pokok-pokok pemikiran/permasalahan dalam diktat
b) Siapa pengguna atau pembaca diktat
c) Pendekatan penulisan diktat (perbedaan dengan yang lain)
d) Informasi tambahan atau suplemen dan bila perlu media pembelajaran lain
4) Daftar Isi
5) Daftar Gambar/ Tabel / Takarir

b. Bagian Isi
Bagian isi terdiri dari bab-bab, sub bab yang diturunkan berdasarkan silabus, SAP yang meliputi:
1) Judul/Topik Pembelajaran.
2) Rumusan Kompetensi yang harus diperoleh mahasiswa dengan topik pembelajaran dan
Kata-kata/istilah/ungkapan kunci.
3) Isi/Materi Topik Pembelajaran.
4) Lembar Pertanyaan.
a) Model-model pertanyaan atau tes/latihan dapat berupa:
i. tes benar-salah (true-false test),
ii. soal isian (essay test),
iii. tes pilihan ganda (multiple choice test), dan tugas-tugas lain.
b) Topik/Materi Diskusi.
c) Saran-saran lebih lanjut.
d) Kunci Jawaban (jika diperlukan).
c. Bagian akhir
Daftar Pustaka (yang digunakan dalam menulis diktat)
Indeks (bila diperlukan)
Lampiran
Informasi Tentang Penulis Diktat : yang memuat hubungan antara materi diktat dengan keahlian penulis
Catatan: sebuah diktat sebaiknya jumlah halaman minimal 40 halaman [standar CCP], spasi 1,5, ukuran kertas A4

B. Modul
Modul adalah satuan program pembelajaran yang terkecil, yang dapat dipelajari oleh mahasiswa sendiri secara perseorangan (self instructional) setelah mahasiswa menyelesaikan satu satuan dalam modul, selanjutnya mahasiswa dapat melangkah maju dan mempelajari satuan modul berikutnya.
Pembelajaran dengan menggunakan modul, merupakan strategi tertentu dalam menyelenggarakan pembelajaran indiv idual. Modul pembelajaran, sebagaimana yang
dikembangkan di Indonesia, merupakan suatu paket bahan pembelajaran (learning materials) yang memuat deskripsi tentang tujuan pembelajaran, lembaran petunjuk dosen yang menjelaskan cara mengajar yang efisien, bahan bacaan bagi mahasiswa, lembaran kunci jawaban pada lembar kertas kerja mahasiswa, dan alat-alat evaluasi pembelajaran.
Modul berisi :
1. Judul Modul
Judul ini berisi tentang nama modul dari suatu mata kuliah tertentu.
2. Petunjuk Umum
Memuat penjelasan tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam perkuliahan, sebagai berikut :
a. Kompetensi Dasar
b. Pokok bahasan
c. Indikator Pencapaian
d. Referensi
Diisi petunjuk dosen tentang buku-buku referensi yang dipergunakan.
e. Strategi Pembelajaran
Menjelaskan pendekatan, metode, langkah yang dipergunakan dalam proses pembelajaran.
f. Lembar Kegiatan Pembelajaran
Petunjuk bagi mahasiswa untuk memahami langkah-langkah dan materi perkuliahan
g. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa setelah menyelesaikan
pembelajaran satu modul. Evaluasi ini diberikan setelah pembelajaran berakhir (post test) berupa:
tes benar-salah (true-false test), soal isian (essay test), tes pilihan ganda (multiple choice test), dan tugas-tugas lain.
3. Materi Modul
Berisi penjelasan secara rinci tentang materi yang dikuliahkan pada setiap pertemuan
4. Evaluasi Semester
Evaluasi ini terdiri dari tengah dan akhir semester dengan tujuan untuk mengukur kompetensi
mahasiswa sesuai materi kuliah yang diberikan.

C. Handout
1. Pengertian dan tujuan
Handout atau HO adalah “segala sesuatu” yang diberikan kepada mahasiswa ketika mengikuti kegiatan perkuliahan. HO dimaksudkan untuk memperlancar dan memberikan bantuan informasi atau materi pembelajaran sebagai pegangan bagi mahasiswa. HO dapat digunakan untuk beberapa kali pertemuan sangat tergantung dari disain dan lama waktu untuk penyelesaian satuan perkuliahan tersebut.
2. Komponen Handout:
Komponen handout terdiri dari:
a. Identitas handout: Nama fakultas, jurusan/prodi, kode mata kuliah, nama mata kuliah, pertemuan ke, handout ke, jumlah halaman dan mulai berlakunya handout.
b. Materi pokok/materi pendukung perkuliahan yang akan disampaikan; kepedulian, kemauan dan keterampilan dosen dalam menyajikan ini sangat menentukan kualitas HO.
3. Jenis Handout (00000)
Jenis handout dibagi berdasarkan karakteristik mata kuliah yang dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu handout mata kuliah praktek dan non praktek.
a. Handout untuk mata kuliah praktek berisi:
1) Materi pokok kegiatan praktek, di dalamnya;
2) Langkah-langkah kegiatan/proses yang harus dilakukan mhs, langkah demi langkah dalam memilih alat, merangkai dan menggunakan alat/ instrumen yang akan digunakan/dipasangkan dalam unit/rangkaian kegiatan praktek
3) Pembelajaran dengan melakukan praktek ini berbeda dengan pembelajaran teori,
pengalaman dan keterampilan mhs sangat diharapkan dalam penggunaan alat/instrumen
praktek (harus mutlak benar), salah dalam merangkai/menggunakan akan berakibat fatal , kerusakan atau bahkan kecelakaan.
4) Perlu/seringkali dilakukan pre-test terlebih dulu, sebelum mhs memasuki ruangan lab/bengkel, untuk mengetahui sejauh mana mhs telah siap dengan segala apa yang akan dilakukan praktek tsb.
5) Penggunaan alat evaluasi (reported sheet) sangat diperlukan untuk umpan balik dan untuk melihat tingkat ketercapain tujuan, serta kompe-tensi-kompetensi yang harus dikuasai dan dicapai oleh setiap mhs.
6) Keselamatan kerja di lab/bengkel perlu dibudayakan dalam kegiatan praktek, baik praktek di lab mapun di bengkel.
b. Handout untuk matakuliah non praktek:
1) Acuan handout adalah SAP.
2) Format handout
(a) Bebas (slide, transparansi, paper based), dan dapat berbentuk narasi kalimat tapi singkat atau skema/flowchart dan gambar.
(b) Tidak perlu pakai header maupun footer untuk setiap slide cukup yang halaman pertama saja.
3) Content handout:
(a) Overv iew materi
(b) Rincian materi
4. Untuk mata kuliah praktek format identitasnya sama, isi handout disesuaikan dengan kekhususan materinya.
5. Contoh bentuk-bentuk tampilan handout non praktek sebagai berikut:

D. BUKU
Buku adalah salah satu sumber bacaan, berfungsi sebagai sumber bahan ajar dalam bentuk materi cetak (printed material).
Secara umum buku dibedakan menjadi 4 jenis; yaitu:
1. Buku sumber yaitu buku yang biasa dijadikan rujukan, referensi, dan sumber untuk kajian ilmu tertentu, biasanya berisi suatu kajian ilmu yang lengkap,
2. Buku Bacaan, adalah buku yang hanya berfungsi untuk bahan bacaan saja, misalnya novel, cerita, legenda, dll,
3. Buku Pegangan, yaitu buku yang bisa dijadikan pegangan guru atau pengajar dalam
melakukan proses pengajaran
4. Buku bahan ajar, yaitu buku ynag disusun, untuk proses pembelajaran, dan beisi bahan-bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkan,
Dalam penusunan buku ada kode etik, aturan dan ketentuan yang mengatur, jadi begi para penyusun buku, buku apapaun itu, harus tunduk apda kenetuan yang berlaku, diataranya secara umum sebagai berikut;’
a. Buku tidak boleh mengganggu ketentraman social,
b. Buku tidak boleh menggangu unsure sara,
c. Tidak boleh menjadi bahan prokontra antara beberapa etnis, golongan, ras, suku bangsa, budaya ataupun agama.
d. Buku harus bisa dipertanggungjawabkan keberaannya,

Thursday, September 27, 2012

Sinopsis Buku KEPERAWATAN KELUARGA




Keperawatan keluarga merupakan buku yang sangat praktis dan aplikatif sebagai sumber rujukan bagi mahasiswa keperawatan, praktisi keperawatan di puskesmas (petugas perkesmas) maupun pengajar di instansi pendidikan keperawatan. Buku  ini membahas tentang konsep dasar keluarga, teori pokok Keperawatan keluarga dan proses keperawatan keluarga yang disertai contoh kasus asuhan keperawatan. Buku Keperawatan keluarga ini mencakup :

     Bab 1,  konsep keluarga  yang didalamnya membahas tentang definisi keluarga, keluarga sehat,  batasan keluarga, ciri keluarga, struktur keluarga, tipe/bentuk keluarga, fungsi keluarga, peran perawat keluarga. Bab 2, tahap perkembangan keluarga, yang didalamnya membahas tentang seluruh tahap perkembangan keluarga dari mulai tahap pasangan baru (keluarga baru) sampai dengan tahap keluarga usia lanjut serta dijelaskan tentang tugas keluarga pada setiap perkembangannya. Didalam bab ini juga dibahas tentang tahap lingkaran kehidupan keluarga.   Bab 3, pelayanan keperawatan dirumah, yang didalamnya dibahas tentang pengertian keperawatan dirumah, tujuan keperawatan dirumah, hubungan dan interaksi antara perawat-klien keluarga, standard dan tanggung jawab tenaga kesehatan terkait pelayanan kesehatan dan keperawatan dirumah.  Bab 4, teori dan model konsep keperawatan keluarga, yang didalamnya dibahas mengenai model konsep dan teori dasar yang menjadi acuan pembuatan asuhan keperawatan di keluarga, yang pada bab ini akan di bahas dua teori yang umum dan lazim digunakan dibeberapa negara yaitu teori dari Calgary (model Calgary) dan teori dari Friedman (model Friedman). Bab 5,  asuhan keperawatan keluarga, yang didalamnya dibahas tentang proses keperawatan keluarga mulai dari pengkajian keperawatan keluarga, analisa data, menegakkan diagnosa keperawatan keluarga, menskoring/memprioritaskan masalah, membuat rencana keperawatan, tindakan keperawatan dan mengevaluasi tindakan.

Penulis: Abi Muhlisin,   Penerbit: Gosyen Publishing Jogjakarta,  ISBN: 978-602-9018-70-7,    186 halaman.

Tuesday, March 6, 2012

Langkah-langkah Metode Ilmiah

Langkah-langkah

1. Memilih dan mendefinisikan masalah.

2. Survei terhadap data yang tersedia.

3. Memformulasikan hipotesa.

4. Membangun kerangka analisa serta alat-alat dalam menguji hipotesa.

5. Mengumpulkan data primair.

6. Mengolah, menganalisa serla membuat interpretasi.

7. Membual generalisasi dan kesimpulan.

8. Membuat Laporan

KRITERIA METODE IMIAH

Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Berdasarkan fakta.

2. Bebas dari prasangka (bias)

3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa.

4. Menggunakan hipotesa

5. Menggunakah ukuran objektif.

6. Menggunakan teknik kuantifikasi.

6.1. Berdasarkan Fakta

Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang dianalisa haruslah berdasarkan fakta-fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasar-kan pada daya khayal, kira-kira, legenda-legenda atau kegiatan sejenis.

6.2. Bebas dari Prasangka

Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alasan dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang objektif.

6.3. Menggunakan Prinsip Analisa

Dalam memahami serta member! arti terhadap fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip analisa. Semua masalah harus dicari sebab-musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis, Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat deskripsinya saja. Tetapi semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan menggunakan analisa yang tajam.

6.4. Menggunakan Hipotesa

Dalam metode ilmiah, peneliti harus dituntun dalam proses berpikir dengan menggunakan analisa. Hipotesa harus ada untuk mengonggokkan persoalan serta memadu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti.

6.5. Menggunakan Ukuran Obyektif

Kerja penelitian dan analisa harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif. Ukuran tidak boleh dengan merasa-rasa atau menuruti hati nurani. Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif dan dengan menggunakan pikiran yang waras.

6.6. Menggunakan Teknik Kuantifikasi

Dalam memperlakukan data ukuran kuantitatif yang lazim harus digunakan, kecuali untuk artibut-artibut yang tidak dapat dikuantifikasikan Ukuran-ukuran seperti ton, mm, per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus selalu digunakan Jauhi ukuran-ukuran seperti: sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagai¬nya Kuantifikasi yang termudah adalah dengan menggunakan ukuran nominal, ranking dan rating

LANGKAH DALAM METODE ILMIAH
Pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode ilmiah harus mengikuti langkah-langkah tertentu. Marilah lebih dahulu ditinjau langkah-langkah yang diambil oleh beberapa ahli dalam mereka melaksanakan penelitian.

Schluter (1926) memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian.

2. Mengadakan survei lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin dipecahkan.

3. Membangun sebuah bibliografi.

4. Memformulasikan dan mendefinisikan masalah.

5. Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.

6. Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hu-bungannya dengan data atau bukti, baik langsung ataupun tidak langsung.

7. Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam

masalah.
8. Menentukan apakah data atau bukti yang dipertukan tersedia atau tidak.

9. Menguji untuk diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak.

10. Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan.

11. Mengatur data secara sistematis untuk dianalisa.

12. Menganalisa data dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpretasi.

13. Mengatur data untuk persentase dan penampilan.

14. Menggunakan citasi, referensi dan footnote (catatan kaki).

15. Menulis laporan penelitian.

Dalain melaksanakan penelitian secara ilmiah. Abclson (1933) mcmberikan langkah-langkah berikut:
1. Tentukan judul. Judul dinyatakan secara singkat
2. Pemilihan masalah. Dalam pemilihan ini harus: a). Nyatakan apa yang disarankan oleh judul. b). Berikan alasan terhadap pemilihan tersebut. Nyatakan perlunya diselidiki masalah menurut kepentingan umum. c). Sebutkan ruang lingkup penelitian. Secara singkat jelaskan materi. situasi dan hal-hal lain yang menyangkut bidang yang akan diteliti.

3. Pemecahan masalah. Dalain niemecahkan masalah harus diikuti hal-hal berikut: a).

Analisa harus logis. Aturlah bukti dalam bnntuk yang sistematis dan logis. Demikian juga halnya unsur-unsur yang dapat memecahkan masalah. b). Proscdur penelitian yang digunakan harus dinyatakan secara singkat. c) Urutkan data, fakta dan keterangan-keterangan khas yang diperlukan d). Harus dinyatakan bagaimana set dari data diperoleh termasuk referensi yang digunakan. e). Tunjukkan cara data dilola sampai mempunyai arti dalam memecahkan masalah. f). Urutkan asumsi-asumsi yang digunakan serta luibungannya dalam berbagai fase penelitian.

4. Kesimpulan

a). Berikan kesimpulan dari hipotesa. nyatakan dua atau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh b). Berikan implikasi dari kesimpulan. Jelaskan bebernpa implikasi dari produk hipotesa dengan memberikan beberapa inferensi.

5. Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah dikerjakan yang berhubungan dengan masalah.

Nyalakan kerja-kerja sebelumnya secara singkat dan berikan referensi bibliografi yang mungkin ada manfaatnya scbagai model dalam memecahkan masalah. Dari pedoman beberapn ahli di atas, maka dapal disimpulkan balnwa penelitian dengan mcnggunakan metode ilmiah sckurang-kurangnya dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

5.1. Merumuskan serta mcndefinisikan masalah

langkah pertama dalam meneliti adalah menetapkan masalah yang akan dipecahkan. Untuk menghilangkan keragu-raguan. masalah tersebut didefinisikan secara jelas. Sampai ke mana luas masalah yang akan dipecahkan Sebutkan beberapa kata kunci (key words) yang terdapal dalam masalah Misalnya. masalah yang dipilih adalah Bagaimana pengaruh mekanisasi terhadap pendapatan usaha tani di Aceh?
Berikan definisi tentang usaha tani, tentang mekanisasi, pada musim apa. dan sebagainya

5.2. Mengadakan studi kepustakaan

Setelah masalah dirumuskan, step kedua yang dilakukan dalam mencari data yang tersedia yang pernah ditulis peneliti sebelumnya yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. Kerja mencari bahan di perpustakaan merupakan hal yang tak dapat dihindarkan olch seorang peneliti. Ada kalanya. perumusan masalah dan studi keputusan dapat dikerjakan secara bersamaan.

5.3. Memformulasikan hipotesa

Setelah diperoleh infonnasi mengenai hasil penelitian ahli lain yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang ingin dipecahkan. maka tiba saatnya peneliti memformulasikan hipotesa-hipolesa unttik penelitian. Hipotesa tidak lain dari kesimpulan sementara tentang hubunggan sangkut-paut antarvariabel atau fenomena dalam penelitian. Hipotesa merupakan kesimpulan tentatif yang diterima secara sementara sebelum diuji.

5.4. Menentukan model untuk menguji hipotesa

Setelah hipotesa-hipotesa ditetapkan. kerja selanjutnya adalah merumuskan cara-cara untuk menguji hipotesa tersebut. Pada ilmu-ilmu sosial yang telah lebih berkembang. scperti ilmu ekonomi misalnva. pcnguji’an hipotesa didasarkan pada kerangka analisa (analytical framework) yang telah ditetapkan. Model matematis dapat juga dibuat untuk mengrefleksikan hubungan antarfenomena yang secara implisif terdapal dalam hipotesa. untuk diuji dengan teknik statistik yang tersedia.
Pcngujian hipotesa menghendaki data yang dikumpulkan untuk keperluan tersebut. Data tersebut bisa saja data prime ataupun data sekunder yang akan dikumpulkan oleh peneliti.

5.5. Mengumpulkan data

Peneliti memerlukan data untuk menguji hipotesa. Data tersebut yang merupakan fakta yang digunakan untuk menguji hipotesa perlu dikumpulkan. Bcrgantung dan masalah yang dipilih serta metode pcnelitian yang akan digunakan. teknik pengumpulan data akan berbeda-beda. Jika penelitian menggunakan metode percobaan. misalnya. data diperoleh dan plot-plot pcrcobaan yang dibual sendiri oleh peneliti Pada metodc scjarah ataupun survei normal, data diperoleh dengan mcngajukan pertanyaan-pertanyaan kepada responden. baik secara langsung ataupun dengan menggunakan questioner Ada kalanya data adalah hasil pengamatan langsung terhadap perilaku manusia di mana peneliti secara partisipatif berada dalam kelompok orang-orang yang diselidikinya.

5.6. Menyusun, Menganalisa, and Menyusun interfensi

Setelah data terkumpul. pcneliti menyusun data untuk mengadakan analisa Sebelum analisa dilakukan. data tersebul disusun lebih dahulu untuk mempermudah analisa. Penyusunan data dapat dalam bentuk label ataupun membuat coding untuk analisa dengan komputer. Sesudah data dianalisa. maka perlu diberikan tafsiran atau interpretasi terhadap data tersebut.

5.7. Membuat generalisasi dan kesimpulan

Setelah tafsiran diberikan, maka peneliti membuat generalisasi dari penemuan-penemuan, dan selanjutnya memberikan beberapa kesimpulan. Kesimpulan dan generalisasi ini harus berkaitan dengan hipotesa. Apakah hipotesa benar untuk diterima. ataukah hiporesa tersebut ditolak.

5.8.Membuat laporan ilmiah

Langkah terakhir dari suatu penelitian ilmiah adalah membuat laporan ilmiah tentang hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Penulisan secara ilmiah mempunyai teknik tersendiri.